Selasa, 25 November 2014

:) ini cerpen karya gue sendiri, waktu gue kelas 9  gara gara disuruh bikin cerpen oleh pelajaran bahasa Indonesia dan cerpen ini terinspirasi dari sumber-sumber yang berbeda.
:D iseng pengen gue publikasikan lewat nih blog.



Rahasia Di Puncak Bukit Berdamping

                                                                                      Karya Merry Ayu G.

          Aku seorang gadis desa berumur 14 tahun yang hidup bersama ibu dan adik berumur 5 tahun tanpa ditemani oleh seorang ayah lagi. Karena ayah telah lama meninggal dunia pada saat aku masih bayi. Ayah meninggal dikarenakan bencana tanah longsor ketika ayah ku bekerja menjadi  penambang emas.
          Pada saat itu, ayah berada di bawah tebing yang cukup tinggi, karena hujan deras yang mengguyur desa tersebut, membuat pasir dan pepohonan rubuh dari atas tebing seketika mengenai kepala ayahku, ayahku pun tak dapat menahan tubuhnya dari hantaman pasir dan pepohonan tersebut,cerita itu ku dapat dari ibu ku yang selalu menceritakan sosok ayah pada ku.
          “Mala” teriak ibu pelan dari dalam dapur.
          “iya bu, ada apa ? jawab ku
          “apakah Mala sudah menyelesaikan Shalat Subuh nya,nak ?” Tanya ibu
          “sudah bu !”
          “Ayo nak, sekarang bantu ibu ya buat kue cemplon”
          “baik bu.”
          Aku tak penah menolak kata-kata ibu yang menurutku baik untuk ku lakukan, karena hanya tinggal dia lah seseorang yang sekarang merawat ku. karena itu aku selalu menuruti  perkataan ibu. Oh iya aku sampai lupa memberi tahu apa itu kue cemplon, baiklah akan ku beritahu yang belum tahu.  Kue cemplon terbuat dari singkong yang dihaluskan yang berisi gula merah didalamnya, kemudian di goreng,istilah nama kue tersebut berasal dari Jawa Tengah.
          Setelah kue cemplon dibuat, barulah aku yang menjualkannya ke kampung-kampung sekitar dengan harga yang cukup murah untuk didesa ku. Sedangkan ibuku dirumah merawat adikku dan mengerjakan pekerjaan rumah layaknya seorang ibu rumah tangga, padahal ibuku tak tega melihatku yang seperti ini, tapi apa boleh buat?. Hanya aku lah satu-satu nya harapan ibu yang dapat membantu, sedangkan adikku, belum.
          “kue..kue..kue cemplonnya bu,pak” itulah yang sering ku katakan jika ku menjajakannya.
          Lain halnya ketika ku berpapasan dengan teman-teman ku, Banyak dari mereka, teman-teman sebaya ku yang mengejek-ejekku, dan pernah sampai aku tertipu oleh orang-orang desa akibat keluguanku. tetapi itu semua tak menurunkan semangatku untuk terus menjualkan dagangan kue cemplonku untuk menutupi kebutuhan hidup kami yang serba pas-pasan.
          Jangan kau Tanya aku masih sekolah atau tidak, makan pun kami harus menguras tenaga untuk mendapatkan sesuap nasi, karena tak bisa menutupi kebutuhan hidup. Syukur-syukur ku dapat makan karena dagangan kue cemplon ku,itu pun kalau laku, jika cuaca yang tidak mendukung, apa boleh buat kami hanya memakan nasi saja dengan ditemani garam atau kecap atau juga kami dapat berpuasa tetapi tidak bagi adik ku, adik ku harus makan walaupun aku dan ibuku tidak makan (berpuasa). itulah kehidupan yang kami rasakan, sangat memilukan bukan ?
                                                          ¤¤¤¤
          Pada Sore hari, dagangan ku habis terjual, dengan senang hati ku pulang kerumah membawakan hasil jerih payahku berjalan untuk menjualkan kue cemplon untuk ibuku, di depan pagar rumah, ku terdiam sejenak melihat yang sedang terjadi di luar pintu rumahku, seseorang berpakaian serba rapi dengan membawa anak buahnya sambil mengetok-ngetok pintu rumahku, yang akhirnya pintu tersebut dibuka oleh ibuku, dan aku pun menghampirinya,ketika sedang serius mengobrol dengan ibuku.
          “bu, apa yang sedang mereka bicarakan kepada ibu ?” tanya ku    penasaran  pada ibu.
          “tidak apa apa nak, masuk lah kau kedalam rumah,!”pinta ibuku
          “nanti ibu ceritakan pada mu,nak !!”  lanjut ibuku berkata
          “ibu janji akan memberi tahunya ?”Tanya ku ingin meminta keyakinan
          “iya anak ku sayang” sambil mengelus kepalaku
          Setelah laki-laki tersebut meninggalkan rumah kami bersama anak buah nya, ibuku pun masuk kedalam rumah, menutup pintu dengan raut wajah yang masam.
          “ibu…ibu.. kenapa ibu ?” Tanya ku penasaran sambil memegang lengan    ibu.
          “tak apa..apa nak ? jawabnya singkat
          “tapi, mengapa wajah ibu berubah masam tak seperti biasa nya ?
          “ibu janjikan, akan ceritakan kepada Mala ? lanjut ku
          “iya Mala, ibu akan ceritakan !” jawab ibuku
          Aku pun menyuruh ibu duduk di kamar dengan bicara empat mata pada ku, aku mendengarkan dengan baik-baik, sehingga aku hanyut dalam cerita ibu yang membuat wajah ku juga berubah masam. Yang ibu bicara kan adalah tentang rumah yang kami tinggali ini, “Ada apa dengan rumahku ?” aku bertanya-tanya dalam hati,  aku pun tahu jawaban nya setelah ibu memberitahu ku tentang itu semua. Ternyata rumah yang kami tinggali akan di gusur karena akan dibuat lahan perkebunan 3 hari lagi, karena rumah yang kami diami tidak memiliki sertifikat tanah. Serentak aku kaget mendengar itu semua, aku berpikir bagimana aku dan keluarga ku bisa hidup lagi ? bagaimana dengan adikku yang masih kecil ? bagaimana cara kami mencari uang untuk menutupi kebutuhan hidup kami ?. Aku tak tahan lagi dengan cerita ibu itu, yang akhirnya air mata ku tak bisa ditahan lagi, air mata ku bercucuran deras di pelukan ibu.
          “ ibu.. kita akan tinggal dimana lagi ?”Tanya ku dengan isakan tangis.
          “ibu tak tahu lagi Mala, kita tak punya apa-apa lagi. ibu akan menjual     apa yang kita miliki dirumah ini untuk menyerahkan pada meraka agar    rumah kita tidak di gusur” jawab ibu dengan menetaskan air mata juga.
          “Mala akan mencari uang bu, agar orang kaya itu tidak menggusur rumah         kita ”kata ku dengan yakin yang sedang hanyut dalam isakan tangis        yang tak terhentikan.
          “tidak usah Mala, kau juga tak tahu harus berbuat apa ?” jawab ibu      ku.
          “tidak bu, Mala tahu apa yang Mala lakukan”  serentak aku melepaskan pelukan ku pada ibu.
                                                          ~~~~

          Pagi hari pun muncul dengan matahari yang menelan malam  sunyi.. Burung-burung berkicau menyambut datangnya pagi hari. Matahari seakan -akan tersenyum melihat indahnya dunia. Entah mengapa aku, gadis desa hanya menampakkan wajah yang tak biasa nya pada hari-hari yang telah kulalui sebelumnya. Aku memikirkan tentang kejadian pada hari lalu, aku bingung harus bagimana lagi, ku lalui sisa-sisa hari ku untuk berjualan kue cemplon seperti biasa nya.                                               
          Setelah pulang dari berjualan kue cemplon, walaupun hari ini tak banyak yang laku karena mungkin ada beberapa penyebab yang tak seperti hari kamaren.
          “Assalamualaikum bu” salam ku ketika masuk kedalam rumah
          “Ibu….Mala datang bu…!”panggil ku pada ibu
          Tapi tak ada jawaban sama sekali dari ibu, aku pun mencari-cari ibu dengan hati yang gelisah dan perasaan yang khawatir,akhirnya ku dapatkan ibu dibelakang rumah ku hampiri ibu yang sedang mengayuhkan bak air pada sumur yang dalam.
          Ketika aku menghampiri ibu, ku dengar suara batuk yang ibu keluarkan, aku pun merasa takut pada ibu kalau ibu kenapa-kenapa, aku takut ibu sakit, apalagi sakit berat yang ibu terima,aku merasa takut sekali, ku berlari menghampiri ibu yang tak jauh dari ku.
          “ibu ada apa bu.? ada apa dengan ibu ?”Tanya ku tergesa-gesa
          “ibu tak apa-apa nak !” jawab ibu, selalu jawaban itu yang ku dengar      ketika ibu sedang kesuliatan,
          “ibu, jawab yang jujur ! ada apa dengan keadaan ibu ?” Tanya ku lagi      dengan nada yang sama seperti sebelumnya.
          “tidak apa-apa Mala ibu hanya sakit biasa !” jawab ibu lagi dengan nada           pelan.
          “Walaupun itu hanya sakit biasa, Mala takut bu.! Mala takut sakit biasa          jadi sakit yang berat, kita tak punya apa-apa untuk berobat bu !”
          “Tak usah kau pikirkan nak, bentar juga pasti akan sembuh” kata ibu    meyakinkan.
          “tidak bu, yang pasti akan Mala usahakan untuk dapatkan uang, untuk    ibu berobat” kata ku untuk membuat hati ibu luluh,
Didalam hatiku, ku tak tahu lagi harus bekerja apa untuk mendapakan uang. Sudah berat rasa nya cobaan ini, ingin ku putus sisa hidup ku, tapi ku masih berpikir bagaimana dengan ibu ku dan juga adik kecil ku ?
          Beberapa saat kemudian, disela-sela percakapan. Ibu ku merasa pusing, dan akhirnya keluar darah dari hidung ibu, ku sangat tak tahan melihat kondisi ibu seperti itu, ternyata sakit ibu memang sudah lama sekitar 2 minggu yang lalu, tapi ibuku tak ingin menampakkannya kepada ku, mungkin ibu berpikir agar aku tak khawatir dengannya. Tapi itu malah membuatku menjadi sakit hati, mengapa ibu tidak member tahu ku sejak awal.
                                                          ¤¤¤¤
          Sunyinya malam membuat ku terlelap dalam tidurku ditemani bunyi-bunyi serangga dan hewan diluar rumah maupun didalam rumah. aku pun serentak terkejut,seoarang nenek yang tua renta membawa tongkat menghampiriku sambil       berkata.
          “nak, apakah engkau butuh pertolongan ?” Tanya seorang nenek itu.
          “i..i..iya.. nek” jawabku gugup tak karuan dengan bercucuran keringat.
          “nenek siapa ?” tanyaku selanjutnya
          “engkau tak perlu tahu aku nak, aku hanya mengirimkan pesan untukmu dari    ayahmu”kata nenek tersebut dengan penuh teka-teki
          “ayah ?” Tanya ku lagi.
          “mengapa dengan ayah ?ada apa dengan ayah, mengapa ada kaitannya     dengan ayah ? Tanya ku tak karuan.
          “ayahmu nak, ayahmu, disana (diakhirat) tahu keadaanmu disini, ia tak   sanggup melihat gadis nya sengsara dalam ujian hidup.” kata nenek itu       menjelaskan.
          “lalu, ayah mengirimkan pesan apa untuk ku nek ?” tanyaku berlanjut
          “ayahmu,menyuruhmu agar ke puncak bukit tinggi, yang berdampingan, ketika  kau pas dipuncak bukit itu kau lihat sepetak tanah yang di- sebelahnya berdampingan 2 pohon besar , lalu kau gali tanah tersebut, bukit tersebut tidak kurang dari 1 km.” 
          “bruk” aku terjatuh dari tempat tidurku. Hanya mimpi ? aku bertanya-tanya pada hatiku. apakah itu nyata adanya, atau hanya bunga tidurku saja ?
          Keesokan harinya, pagi hari aku beranjak dari kamar, lalu menceritakan tentang mimpiku itu pada ibuku yang berbaring didalam kamarnya.
          “aneh..aneh.. saja kamu nak, tak mungkin itu nyata adanya.!” kata ibuku tak yakin.
          “tapi bu, jika kita tak mencobanya tak akan terjawab mimpiku itu bu,?”
          “ tak usah nak, hanya kau ingat nak, mimpi itu hanya khayalan dibawah akal sadarmu, hanya bunga mimpi saja, yang mustahil terjadi.” ucap ibu ku menjelaskan
          “Ayo lekas-lekas kau siap untuk berjualan sana nak.!!” pinta ibu ku.
                                                          ~ ~ ~ ~
          Akhirnya kue cemplon ku laku semua pada hari ini, ya.. pasti nya saat ini perasaanku sangat gembira, saat ku melewati 2 bukit berdampingan, aku teringat akan mimpi malam ku tadi. aku bingung harus menuruti kata-kata ibuku atau kata hati ku.
          Biarlah.. saat ini aku tidak menuruti perkataan ibuku, “Maafkan Mala bu, kali ini Mala tidak menuruti kata-kata ibu, Mala hanya ingin tahu apakah mimpi itu benar adanya atau tidak” kata hatiku berkata.
          Ku langsung lari kepuncak bukit berdampingan itu dengan nafas yang ngos-ngosan,tapi itu tidak mengurangi rasa ingin tahu ku, ku lihat disekeliling ku, hanya hutan lebat dan burung-burung yang ku dapat sedang bernyanyi, entah mengapa ku tak menghiraukan hewan-hewan buas di bukit ini. Dan tak sedikit rasa takut pada kesunyian bukit ini.
          Senja pun tiba sekitar jam 5, matahari mulai menghilang dari tatapanku, dari atas bukit, ku dapat melihat terbenamnya matahari yang sangat indah. Warna gemerlap merah pun terpancar ke langit-langit yang sangat indah dari yang ku duga. “Betapa indahnya Allah menciptakan ini semua. Subhanallah” ucap hatiku berbicara.
          Karena hati ku tertaruh pada keindahan alam, aku sampai terlupa akan mimpiku malam tadi, aku pun bergegas untuk melanjutkan apa yang harus aku perbuat.
          Tiba di atas pucak bukit, aku teringat pada ibu, hari sudah senja aku belum saja pulang kerumah, langkah khawatirnya ibu padaku,”Maafkan Mala ibu” ucapku pada hati kecilku. Aku pun segera mencari puhon tua  berdampingan.
          “Sungguh besarnya pohon tua ini!” Ucapku kagum
          Aku tak takut pada hewan liar atau makhluk halus yang mengintaiku, tetapi aku hanya berhati-hati dengan semua hal yang ingin ku perbuat, dan tak lupa ku doa yang mengiringi jejakku.
          Ketika ingin ku gali tanah diantara 2 pohon tua besar itu, aku lupa akan sesuatu, aku lupa bagaimana cara aku menggali. Aku pun mencari sesuatu yang dapat mengali tanah tersebut. akhirnya ku dapatkan sesuatu yang runcing, pasti engkau tahu kan ? yaps benar kayu runcing. Lalu ku galilah tanah tersebut.
Setelah cukup lama menggali, dengan susah payah dan bercucuran keringat. kayu yang ku pegang pun menyentuh sesuatu di dalam tanah tersebut. “hah apa ini ?” Tanya ku dalam hati.
          Karena penasaran, ku gali terus menerus sampai akhirnya ku mendapatkan sebuah kotak sedang yang tak terlalu besar. tetapi sangat berat isinya. “Apa lagi yang kutemukan ini ?” Tanya ku lanjut dalam hati.
          Kemudian kotak sedang itu ku buka dengan perlahan,  tersentak ku terkejut melihatnya. “Emas” teriakku terkejut. Siapa yang menaruh emas diatas bukit ini, mengapa tidak di taruh ditempat yang lebih aman lagi, Tanya ku melunjak dalam hati kecilku.    
          “Itu untuk engkau gadis kecil, pakailah untuk mencukupi kebutuhan hidup mu dan ibu mu beserta adik kecil mu,” ucap seseorang di sekiling pepohan tersebut. Aku bukan nya merinding, tetapi aku malah mencari-cari asal sumber itu berkata.
          “engkau siapa ?” Tanya ku keras
          “Pasti kau tahu sendiri anak ku.” jawab suara itu seakan-akan berkeliling disekitar pepohan rimbun
          “Anak” ucapku terkejut.
          “Apa mungkin kau ayah ku ?” Tanya ku berlanjut.
          Tetapi arah suara tersebut menghilang, entah kemana ? Hallo..aYah.. engkau ayah ku ? tolong tampakkan wujud mu yah ? ayah…? aku sangat merindukan mu yah..? tak pernah sekali pun ku melihat wujud aslimu yah..? tolong yah,, tampakkan untuk sekali ini saja. ku mohon ayah…aku bertanya-tanya sambil berteriak tetapi nihil, ku tak mendapatkan jawaban lagi, Air mata ku pun tak dapat ku tahan lagi,bercucuran deras membasuh wajahku yang berkeringat , ayah pergi untuk selama-lamanya, tanpa meninggalkan bayangannya sedikit pun. Walaupun begitu, aku sangat bersyukur telah mendengar suara ayah yang tak kelihatan wujudnya. 
          Setelah kejadian yang sangat ku kenang-kenang, akhirnya aku meninggalkan tempat tersebut, ku berlari secepat mungin, sekeras mungkin, walaupun Shalat Maghrib mungkin sudah diazankan. Aku berlari membawa kotak yang berisi emas tersbut sambil meminta maaf pada ALLAH dan Ibu ku dirumah.
          Dengan hasil kerja kerasku dan jerih payah  ku mendaki bukit, akhirnya ku sampai dirumah ku, ternyata ibuku dan adikku menunggu kepulangan ku, sungguh ku sangat bahagia dengan keluarga kecilku. Kecukupan,kekasih sayangan pada keluarga, walaupun dilanda dengan kekurangan tapi itulah yang membuat keluarga kami bahagia.
          “ibu.. Mala datang bu..” Ucapku penuh gembira..
          “Ka…ka..” Ucap adik ku gembira. menemui sang kaka tersayangnya. :D
          “iya dik, kaka sudah pulang”
          “dari mana saja kamu nak,? kau tidak pamit pada ibumu,!” Tanya ibuku

Ku hanya tersenyum kecil dan nyengir kegirangan karena terlalu gembiranya aku. tak tahan rasa nya ku memberikan kehagian ku pada ibu.
          “ibu..” langsung ku peluk ibu dengan air mata yang tak tertahankan.
          “Ada apa Mala, ada apa dengan engkau,,?” Tanya ibu sambil melepaskan pelukan ku
          “Mala gembira….hari ini bu,, Mala bertemu Ayah, dan ia memberikan ini          kepada ku, untuk ibu Berobat dan menyerahkan sebagian pada orang yang   ingin menggusur rumah kita bu, dan sisanya untuk keperluan kita sehari-hari .!”   Kata ku kegirangan sambil menyerahkan kotak berisi emas pada ibu.
          “ayah,? ah ngaco kamu, ayah mu itu sudah meninggal nak.!” jawab ibu tidak       yakin 
          “iya bu, tapi hanya suara nya saja..hehehe. ibu langsung percaya saja” candaku          pada ibu.
          “ah kamu ini Mala! Ceritakan pada ibu ya nak” pinta ibuku
          “iya ibuku sayang”
          “ibu tak marah ?”
          “tidak nak, asalkan kamu selamat saja”

          Setelah ku ceritakan pada ibu dari awal sampai akhir, akhirnya ibu percaya juga pada ku, ku lihat wajah ibu juga tampak senang.
                                                          ****
          Keesokan harinya pagi-pagi sekali aku bangun dari tidurku. Pagi ini beda dari yang sebelumnya, Matahari tersenyum pada alam, aku pun gadis desa juga ikut terseyum pada keindahan pagi ini. Dan hari ini tidak seperti biasa nya, aku libur jualan.!!! Ibu memerintahkan ku untuk dirumah saja menjaga adik kecilku. Dan menunggu seseorang datang kemari.
          Sekitar berjam-jam aku menuggu hadirnya orang kaya tersebut, Ternyata ia datang jua dengan berpakaian serba rapi, ia membawakan peralatannya beserta anak buahnya.
          “hey anak miskin !, dimana ibu mu, suruh ibu mu keluar karna rumah ini akan    segera di ratakan seperti tanah” ucapa orang kaya tersebut dengan          berlagaknya.
          “TIDAK.!!!, jawabku dengan suara lantang.
          “kami tidak akan membiarkan kalian menggusur rumah kami” kata ibu ku         keluar dari kamarnya.
          “berlagak sekali kau, punya apa engkau sampai engkau tak bisa menuruti         perintahkanku” ucap orang kaya tersebut dengan muka sinis.
          “ kami hanya punya ini, dan sepertinya cukup untuk kalian, agar kalian tidak     menggusur rumah kami” jawab ibu sambil menyerahkan sebagian emas yang tersimpan dikotak sedang itu.
          “Baiklah, kami tak jadi menggusur rumah kalian” ucap orang kaya tersebut      dengan sedikit menyerah dan kembali keluar rumah.
          “Horee….” Teriak ku kegirangan mendengar kalimat itu.
          “ibu,,rumah kita tak jadi di gusur” ucapku pada ibu.
          “iya Mala, ibu baru ingat, bahwa ayahmu dulu pernah mengatakan pada ibu       bahwa ia sedang menabung untuk masa depan kalian, tapi sampai sekarang ibu      tak pernah tahu dimana tabungan itu, dan ibu baru sadar dengan cerita mu       tadi malam nak. terimakasihlah pada Allah dan ayahmu nak..” Sentak ibu    menjelaskan pada ku tentang kotak berisi emas itu.
          “iya bu,, Ya allah terimakasih, akhirnya kami masih bisa tinggal dirumah ini     tanpa mencari-cari tempat untuk singgahi lagi.” ucap syukurku pada yang           Maha Kuasa.
         
          Selain rumah kami yang tidak jadi digusur, ibu pun bisa berobat tanpa su
sah payah lagi mencari uang untuk berobat, tetapi sisa nya akan kami simpan untuk keperluan yang akan datang untuk adik ku bersekolah. Dan kami juga masih berjualan kue cemplon  untuk memenuhi kebutuhan hidup kami.
         
                                                *SELESAI*
         
         
 Thanks. ^_^